Jumat, 14 November 2014

Tentang roh leluhur

Hmm.. ternyata gosip bahwa saya adalah paranormal sudah menyebar luas.
Saya tegaskan, saya bukan paranormal meskipun dulu waktu kecil saya memang bercita-cita menjadi paranormal.

Kenapa saya dikira paranormal?

Saya nggak punya ilmu gaib, nggak bisa berkomunikasi dengan makhluk astral, nggak bisa meramal, nggak bisa pergi ke dimensi lain.

Saya nggak pernah melakukan puasa weton, bertapa, menyediakan sesajen untuk para roh. Saya bukan penganut animisme dan dinamisme.

Saya tidak pernah melakukan ritual semacam ini

Mengapa saya dikira paranormal? Karena saya misterius? Aura saya mistis? Soal aura mistis, itu memang nasib, faktor keturunan.

Btw, mbah buyut saya seorang pertapa. Kampung halamannya di desa sekitar Candi Prambanan, Jawa Tengah. Seumur-umur saya belum pernah berkunjung ke makam dan rumah beliau.

Konon mbah buyut ini punya ilmu putih, bisa menyembuhkan orang setelah beliau bertapa. Ah, saya nggak ngerti gimana, tapi yang jelas orang pintar semacam ini adalah orang yang diandalkan untuk pengobatan, mengingat jaman dulu nggak ada dokter untuk rakyat jelata. Dokter hanya untuk kaum penjajah dan orang kaya.

Mbah buyut saya seorang pertapa, seperti the Hermit di kartu Tarot

Pekerjaannya adalah menyembuhkan orang

Saya nggak tau mbah buyut orangnya seperti apa, hanya eyang saya yang paham. Bahkan ibu saya dan adik-adiknya nggak pernah ketemu mbah buyut karena beliau berkelana terus. Kata eyang kakung (kakek) saya, mbah buyut melakukan perjalanan ke seluruh Pulau Jawa dengan berjalan kaki. Hebat ya, saya aja sering mengeluh kalo travelling naik mobil atau kereta api. hehehe..

Mbah buyut saya punya banyak teman dari kalangan roh halus, jin-jin baik yang ikhlas membantu manusia dan tak pernah minta tumbal. 

Sebagai anaknya mbah buyut, eyang kakung saya percaya, oom (adik dari ibu saya) adalah titisan mbah buyut. Pernyataan ini dibantah banyak orang, karena oom saya tidak punya aura mistis dan clairvoyance sama sekali. 

Rasanya di keluarga saya nggak ada yang berbakat deh. Tapi oom saya dulu pernah bertekad belajar ilmu putih. Guru spiritualnya bilang, oom nggak ada bakat untuk jadi "orang pintar", jadi sebaiknya latihan itu dihentikan saja. Memang akhirnya oom saya berhenti dan kembali ke jalan yang benar, sekarang oom saya jadi religius.

Gurunya bilang, yang punya bakat adalah cucu pertama dari anak pertama eyang kakung. Saya adalah cucu pertama dari anak pertama.

Waktu itu seluruh anggota keluarga nggak menanggapi dengan serius, karena saya masih anak-anak. Keluarga saya nggak percaya dengan hal-hal seperti itu.

Saya baru diberitahu oleh tante saya (adik bungsu ibu) tentang hal ini setelah saya lulus S2. Telat banget ngasih taunya, hehehe..

Tante saya sendiri dulu juga hobi melakukan ritual puasa weton dan sembahyang tengah malam, tujuannya supaya lulus ujian, cepat sidang skripsi, dan dapat pekerjaan. Beda banget dengan ibu saya yang kalo punya keinginan selalu melakukan doa Novena dan jalan salib di gua Maria. Saya sih nggak se-religius ibu saya, tapi juga nggak se-kejawen tante saya. Jika punya keinginan saya selalu berdoa, tapi doa yang biasa aja. 

Tante saya meskipun sering puasa weton, tidak pernah mendapat tanda-tanda kunjungan dari mbah buyut. Begitupula dengan oom, meskipun rajin latihan juga nggak pernah diberi panggilan.

Nah, saya sendiri pernah dikunjungi mbah buyut di dalam mimpi, malah beberapa kali. Saya sih nggak mengenali beliau. Saya menganggap mimpi tentang orang tua yang pakai beskap, surjan dan blangkon itu biasa aja. 



Berhubung oom saya adalah satu-satunya orang yang rajin ziarah ke makam mbah buyut, saya akhirnya menanyakan soal mbah buyut kepada oom. Ternyata betul, orang tua yang pakai baju adat Jawa itu mbah buyut. 

Hmm.. saya penasaran dong, mbah buyut ternyata ingin berkomunikasi dengan saya.

Kata tante, seandainya saya rajin bertapa dan melakukan ritual-ritual, saya pasti bisa seperti mbah buyut. Ibu saya melarang keras. Saya juga nggak mau, takut juga sih sebenarnya.

Sepanjang bulan Oktober menjelang malam 1 Suro banyak roh yang datang berkunjung lewat mimpi. Ada mbah buyut, eyang kakung, adik sepupu, tetangga, dan teman sekelas. Saya menyimpulkan, mereka minta didoakan. Baiklah, saya doakan.

Setelah diberitahu tante tentang fakta ini, saya jadi agak takut berkunjung ke situs-situs budaya yang mistis.

Biasanya saya bukan orang penakut. Saya berani pergi ke kuburan malam-malam sendirian dan menginap di tempat angker. Saya berani pergi ke Lawang Sewu yang terkenal sebagai gedung paling angker di Semarang.

Tapi saya agak takut dengan tempat mistis yang berupa bekas kerajaan atau pusat kerajaan makhluk halus.

Misalnya ya, tempat KKN saya di Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Itu adalah salah satu pusat budaya, ada situs candi di sana. Saya KKN tahun 2011 waktu bulan puasa. Bulan puasa semestinya tidak ada gangguan roh.

Tapi bulan puasa di tempat KKN saya beda. Saya mendapat lokasi KKN di desa Penawangan yang nun jauh di sana, super duper jauh dari kecamatan Pringapus. Untuk ke sana kami harus melewati kebun karet, hutan jati dan mahoni, juga lembah. Luar biasa deh pokoknya. Kayak acara reality show di TV. 

Kebun karet

Lembah

Untuk menuju ke Penawangan, kita harus lewat dusun Mranak (desa Wonorejo). Nah, di antara Mranak dan Penawangan ini ada sendang (kolam). Untuk tamu atau orang yang baru berkunjung ke Penawangan wajib membasuh ban kendaraannya dengan air sendang ini. Jika tidak, nasib sial akan dialami oleh orang tersebut. Tidak ada pendatang yang mengabaikan kebiasaan ini. Semuanya tertib membasuh ban motor atau mobilnya di sana.

Cuci ban dulu supaya tidak sial

Awalnya saya tidak mengira Pringapus, khususnya Penawangan adalah tempat sakral. Saya mengira di sana banyak roh-roh penunggu biasa seperti tempat lain pada umumnya.

Ternyata di sana saya banyak diberi petunjuk lewat mimpi tentang keberadaan arca emas dan candi.

Yang lagi terbang itu saya, bukan hantu
Arca gaibnya ada di bawah pohon besar (sebelah kiri foto)

Saya bercerita ke teman saya tentang mimpi saya, dan teman saya bercerita ke kepala dusun. Pak kadus bilang di Penawangan memang ada arca emas gaib. Sudah banyak orang berusaha menggali arca emas itu, tapi tidak ketemu dan malah menjumpai berbagai kendala. Hanya orang-orang "istimewa" yang bisa melihat arca emas atau diberitahu tentang keberadaannya.

Saya juga melihat candi besar dalam mimpi saya. Ternyata memang benar di daerah ini ada candi. Kecamatan Pringapus ini memang situs bersejarah, ada banyak arca dan puing-puing candi yang ditemukan di kecamatan ini.

Itu berita tanggal 3 April 2013.

image
Ternyata memang ada candi di kecamatan Pringapus
Sebelum berangkat KKN ke sana saya bahkan tidak tahu *kudet ya*

Ada lagi penampakan lainnya. Kejadiannya setelah acara buka bersama di kecamatan. Kami naik motor beramai-ramai, teman-teman saya berboncengan, hanya saya yang naik motor sendiri. Udah gitu paling belakang pula. Saya melihat seorang kakek tua berpakaian ala ulama jaman dulu, baju dan surbannya mirip walisongo. Beliau berjenggot panjang dan putih, sedang duduk di batu besar di pinggir hutan.
Seperti ini bajunya, tapi tanpa keris

Saya pikir itu manusia, saya spontan tersenyum dan menyapa beliau "Monggo, mbah" 
Mbah itu memandangi saya dengan agak melotot. 

Sampai di posko KKN Penawangan, saya bercerita pada teman-teman. Nggak ada yang melihat mbah itu. Pak kadus bilang, itu roh halus. Saya pikir itu roh baik karena penampilannya seperti ulama, tapi ternyata tidak. Kata pak kadus, roh yang satu ini jahat. Dia bukan ulama, dia sudah ada sebelum para ulama datang. Konon sewaktu hidup dia adalah penganut ilmu hitam. Aduh, saya jadi merinding..

Banyak orang yang bilang, saya cocoknya kuliah di jurusan arkeologi. Kata mereka, saya pasti bisa menemukan situs bersejarah dengan mudah, hanya modal mimpi. Haha.. garing.

Situs kerajaan kuno menurut saya lebih seram daripada bangunan-bangunan angker seperti Lawang Sewu, kuburan, benteng Belanda, goa Jepang dsb. Soalnya roh-roh di situs kerajaan kuno masih selalu meminta agar rumah mereka ditemukan dan dihargai oleh orang-orang sekarang. Jika tidak dihargai, mereka bisa marah.

Mereka ingin ditemukan dan dihargai

Dengan kemajuan jaman, kita tidak boleh lupa bahwa menghargai adat itu juga penting. Agama mengajarkan supaya kita tidak mempercayai klenik. Menurut saya, klenik dan penghormatan terhadap adat adalah hal yang berbeda.

Ada waktunya beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, ada waktunya kita mengikuti adat dan menghargai budaya di tempat kita berada. 

Yang penting kita tidak serakah untuk memperoleh keinginan kita secara gaib. Keserakahan itulah yang membuat klenik menjadi dosa.